PENGERTIAN (K3)
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA APLIKASI PADA MANUFACTURE
A.
PENDAHULUAN
Setiap perusahaan didirikan untuk mencapai tujuan
tertentu yang akan dicapai. Untuk mencapai tujuan tertentu perusahaan
memerlukan adanya bantuan sumber daya manusia atau yang lebih dikenal dengan
karyawan. Keberhasilan perusahaan dilihat dari kontribusi yang telah dilakukan
oleh sumber dayaa manusia untuk perusahaan. Sumber daya manusia yang telah
memberikan banyak kontribusi terhadap kemajuan perusahaan juga harus
memdapatkan kesejahteraan yang layak dalam segi financial dan keselamatan kerja
di lingkungan tempat kerjanya. Kebutuhan karyawan dalam melaksanakan pekerjaan
perlu mendapat perlindungan dengan adanya lingkungan tempat kerjanya yang aman,
nyaman dan tentram karena akan menimbulkan keinginan untuk bekerja dengan baik.
Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja, semakin sedikit kemungkinan
terjadinya kecelakaan kerja
Keselamatan
kerja adalah membuat kondisis kerja yang aman dengan dilengkapi alat-alat
pengaman, penerangan yang baik, menjaga lantai dan tangga dari air, minyak,
nyamuk, dan memelihara fasilitas air yang baik (Agus, 1989). Tujuan dari keselamatan
kerja adalah,
a. Setiap pegawai dapat jaminan
keselamatan dan kesehatan kerja.
b.
Agar setiap perlengkapan dan
peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya.
c.
Agar semua hasil produksi dijaga
keamanannya.
d.
Agar adanya jaminan atas
pemeliharaan dan peningkatan gizi karyawan.
e.
Agar meningkat kegairahan,
keserasian kerja, dan partisipassi kerja.
f.
Agar pegawai merasa aman dan
terlindungi dalam bekerja.
Keselamatan
kerja memiliki sifat sebagai berikut :
a) Sasarannya
adalah lingkungan kerja.
b) Bersifat
teknik.
B.
TUJUAN
Tujuan
umum dari K3 adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan K3 dapat dirinci sebagai
berikut:
1) Agar
tenaga kerja dan setiap orang berada di tempat kerja selalu dalam keadaan sehat
dan selamat.
2) Agar
sumber-sumber produksi dapat berjalan secara lancer tanpa adanya hambatan.
C.
KESELAMATAN
KERJA PADA PABRIK MANUFACTURE
Bagi perusahaan manufaktur, kecelakaan kerja
dapat menyebabkan kerugian secara langsung maupun tidak langsung. Secara
langsung, perusahaan manufaktur harus mengganti kerusakan yang ada
dan juga memberikan biaya pengobatan serta perawatan. Sementara secara tidak
langsung, perusahaan manufaktur akan mengalami ketidakproduktifan.
Mengapa? Karyawan yang mengalami kecelakaan kerja
tentunya tidak dapat berkontribusi pada perusahaan. Lebih jauh lagi,
terkadang kecelakaan kerja mengakibatkan lini produksi terhenti karena
kerusakan alat, mesin, atau bahkan pabrik itu sendiri. Belum lagi, perusahaan
juga harus melakukan pelatihan-pelatihan bagi pengganti orang yang mengalami
kecelakaan kerja.Bagi industri manufaktur yang menerapkan
spesialisasi, hal ini makin terasa lagi. Karena satu proses terhenti, akan
mengakibatkan proses lain tidak bisa berjalan. Hal ini berarti makin banyak
ketidak produktifan.Lalu bagaimana untuk mengendalikan risiko kecelakaan
& keselamatan kerja?
Penerapan Sistem ManajemenKesehatan & Kerselamatan Kerja
(K3) adalah solusi yang tidak bisa ditawar lagi bagi
perusahaan manufaktur.
Acuan yang telah terbukti efektif di dunia untuk Sistem
Manajemen K3 adalah OHSAS 18001.
OHSAS 18001:2007 adalah suatu standar internasional untuk
Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Diterbitkan tahun 2007,
menggantikan OHSAS 18001:1999, dan dimaksudkan untuk mengelola aspek kesehatan
dan keselamatan kerja (K3) daripada keamanan produk.OHSAS 18001 menyediakan
kerangka bagi efektifitas manajemen K3 termasuk kesesuaian dengan peraturan
perundang-undangan yang diterapkan pada aktifitasaktifitas anda dan mengenali
adanya bahaya-bahaya yang timbul.Standar tersebut dapat diterapkan pada setiap
organisasi yang berkemauan untuk menghapuskan atau meminimalkan resiko bagi
para karyawan dan pemegang kepentingan lainnya yang berhubungan langsung dengan
resiko K3 menyertai aktifitas-aktifitas yang ada.
Banyak organisasi memiliki elemen-elemen yang
dipersyaratkan oleh OHSAS 18001 tersedia di tempat penggunaan yang dapat saling
melengkapi untuk membuat lebih baik sistem manajemen terpadu sesuai dengan
persyaratan standar ini.Organisasi yang mengimplementasikan OHSAS 18001
memiliki struktur manajemen yang terorganisir dengan wewenang dan
tanggung-jawab yang tegas, sasaran perbaikan yang jelas, hasil pencapaian yang
dapat diukur dan pendekatan yang terstruktur untuk penilaian resiko. Demikian
pula, pengawasan terhadap kegagalan manajemen, pelaksanaan audit kinerja dan
melakukan tinjauan ulang kebijakan dan sasaran K3. Dalam hal ini
konsultan OHSAS 18001, menyadari
bahwa OHSAS 18001 fokus pada permasalahan. Oleh karena itu, proses
implementasi OHSAS 18001 pada Industri manufacture harus menggunakan pendekatan
yang menitik beratkan pada proses-proses indutri manufaktur yag memiliki resiko
terjadinya keselamatan kerja.
Berikut
ini adalah sekilas langkah penerapan OHSAS 18001 pada industri manufaktur. Langkah
awal implementasi OHSAS 18001 dimulai dengan intrepretasi
klausal pada proses kerja perusahaan. Pertanyaan yang harus dijawab
oleh konsultan serta perusahaan adalah proses-proses apa saja yang memiliki
risiko? Apa saja risiko yang mungkin terjadi? Bagaimana mengukur &
mengklasifiksikannya? Bagaimana mengendalikannya? Fasilitas apa saja yang
dibutuhkan? Keahlian apa saja yang harus dimiliki oleh SDMnya? Bagaimana bila
terjadi bencana secara tiba-tiba? Apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat
dijawab secara tepat, kita akan mampu menyusun sistem yang sesuai dengan
karakteristik proses & risiko yang ada pada perusahaan.
Setelah intrepretasi standar, langkah selanjutnya adalah
penyusunan sistem dan dokumen OHSAS 18001. Beberapa prosedur
khas OHSAS yang harus dibuat antara lain prosedur tanggap darurat,
prosedur identifikasi bahaya & evaluasi, ataupun prosedur pengendalian
operasional. Sementara untuk prosedur sistem pada dasarnya, hampir
sama dengan ISO 9001.Setelah penyusunan sistem & dokumen, langkah
selanjutnya adalah mengimplementasikan sistem tersebut.
Akan
tetapi, yang harus diperhatikan dalam implementasi OHSAS 18001 di industry manufaktur,
ada beberapa perlengkapan K3 yang juga harus disisipkan seperti APD (Alat Pelindung
Diri) di proses produksi, penerimaan RAW material, maupun gudang, tabung
pemadam kebakaran di beberapa
tempat yang critical, serta alat-alat komunikasi yang mengindikasikan risiko.
Agar proses implementasi berjalan dengan efektif,
Konsultan OHSAS kami menyarankan perusahaan memiliki Tim K3 yang
berfungsi memantau pelaksanaan & kondisi K3 di perusahaan tersebut. Selain
itu, dalam proses implementasi, perusahaan juga perlu mengkomunikasikan
aturan-aturan K3 tidak hanya kepada karyawannya, tetapi juga kepada para supliernya.
Implementasi OHSAS tanpa dukungan komitmen
penuh dari top manajemen tidak akan berhasil. Dengan mengimplementasi sesuai
saran konsultan OHSAS kami, serta dukungan penuh dari top manajemen
perusahaan, maka langkah terakhir sebelum sertifikasi adalah menilai kesiapan
serta efektivitas implementasi tersebut.
Hal ini
dapat dilihat dengan pendekatan audit internal. Hasil audit dibahas dalam rapat
tinjauan manajemen guna dapat diambil langkah-langkah perbaikkan. Apabila
seluruh proses telah dijalankan, maka perusahaan dapat melanjutkan ke tahap
sertifikasi oleh badan sertifikasi independen untuk memperoleh sertifikat
pengakuan implementasi OHSAS 18001.
Dengan telah diperolehnya
sertifikasi OHSAS 18001,
maka industri manufaktur tersebut baru memasuki tahap awal (tahap
taat azas/ compliance) pemenuhan manajemen K3.
Hasil implementasi tersebut perlu dilakukan evaluasi guna dapat
senantiasa meningkatkan perbaikan terhadap sistem manajemen K3 yang telah
diterapkan perusahaan.
D. KESIMPULAN
Peranana K3 sangat penting untuk dunia industri, karena
dengan adanya K3 yang diterapkan di perusahaan khususnya perusahaan maufacture
akan membantu dan mempermudah para pekerja melakukan pekerjaannya. Dibantu
dengan manajemen tentang pentingnya penerapan K3 dan pelaksanaan dilapangan
akan makin mempermudah proses K3.
Pabrik
manufacture yang saat ini mengalami perkembangan pesat mengharuskan pabrik
tersebut menerapkan K3. Manajemen yang sudah bagus, sistem audit yang selalu
dilaksanakan terus menerus pada manajemen K3 di pabrik, tentu berpengaruh pada
kenyaman dan keamanan pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Selain manajemen
K3 dan audit pada manajemen K3, ada faktor pendukung keberhasilan dari
diberlakukannya K3, yaitu APD (Alat Pelindung Diri) yang lengkap di lapangan.
Jika membahas mengenai pabrik manufacture, APD yang dibutuhkan untuk mendukung
K3 adalah :
a) Topi sebagai
pelindung kepala
b) Kaca Mata
sebagai pelindung mata dari partikel-partikel kecil yang membahayakan mata.
c) Masker sebagai
pelindung pernafasan.
d) Pakaian Pelindung untuk melindungi tubuh dari suhu panas.
e) Sepatu pelindung untuk melindungi kaki.
f) Sarung tangan untuk melindungi tangan dari suhu panas dan benda yang bisa membahayakan.
Selain
APD yang harus siap sedia, ada beberapa hal yang harus ada di lapangan, seperti
:
1) Rambu-rambu
larangan akan bahaya yang mengintai (tegangan listik yang tinggi, rambu
pengingat untuk selalu menggunakan APD, rambu pengingat resiko yang akan
dirasakan, rambu pengingat bahaya, rambu tentang alat pekerja yang
membahayakan).
2) Ketersediaan
alat P3K yang lengkap dan klinik di pabrik untuk mengantisipasi jika ada hal
berbahaya.
3) Penyediaan
mobil tanggap jika ada pekerja yang haus dilarikan kerumaha sakit dengan
segera.
Pekerja harus dilindungi dan
dihindari dari kejadian yang bisa membahayakan mereka, karena memang itu sudah
kewajiban perusahaan untuk memberikan kenyamanan bekerja pada pegawainya.
Dengan adanya pelayanan yang baik, maka pegawai akan memberikan pencapaian
tertinggi mereka untuk perusahaan tempat mereka bekerja.
E.
DAFTAR
PUSTAKA
Agus,
Tulus. 1989. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka. Suma’mur.
1993. Higiene Perusahaan dan kesehatan Kerja. Jakarta: Gunung
Agung. https://tuloe.wordpress.com/2009/07/12/dasar-dasar-kesehatan-dan-keselamatan-kerja-k3/